Senja untuk Semua

Di Santorini, sebuah pulau kecil di Yunani, mereka berdatangan untuk menikmati rumah-rumah menghadap ke pantai, songsong senja, amati belai terakhir matahari menyapu dinding, jendela, kincir angin, anak tangga, yang hampir semua dicat putih seolah ingin memberikan sebanyak mungkin cahaya untuk para pelancong. Sebuah harga untuk melepas penat warga Dunia Utara yang dingin dan pucat oleh musim.

Sunset for All People

Nikmatilah sore yang juga melambai malas, beriringan dengan angin lembah dan layang-layang kemarau di halaman rumah dengan ongkos isi hati yang berserah, di Dago Bengkok. Sebuah pengibaratan semacam si fakir yang berjemur di pinggir pantai tanpa memedulikan turis Amerika yang sibuk menjelaskan teori investasi.

Kampung kami padat, rumah kami sempit, bau sedikit anyir terbawa angin meruap dari got mampet, dan anak-anak berlarian menebarkan kata-kata seperti sumpah serapah untuk tertawa bersama temannya. Hidup memang pilihan, atau dipilihkan, atau memang tidak ada kaitannya dengan pilihan, janganlah membuat hati risau. Nikmati belaian terakhir sinar matahari yang melemah, yang menyusun batas antara terik putih dan malam kelam.

Kami bersumpah setia menikmati hidup.
Karena itulah salah satu anugerah-Nya.

One thought on “Senja untuk Semua

  1. Like this, sayang hari Minggu kemarin mendung, ga dapet moment kek gini πŸ˜€

    Tanpa kabel yang semeraut gitu keknya akan berasa seperti bukan Bandung πŸ˜€

Comments are closed.