Sepuluh Persen

Ada 10% orang baik, 10% orang bermasalah, dan 80% mengikuti yang sedang dominan saja.

Ini pendapat teman tentang keadaan Indonesia saat ini. Rasio 20:80 sudah umum dikenal, disebut sebagai Prinsip Pareto. Dua puluh persen sumberdaya menggerakkan delapan puluh persen aktivitas. Dipilah menjadi dua kelompok di atas tampaknya untuk menekankan hal tsb. penting dalam kasus di sekitar kita. Saya juga pernah mendengar paparan salah seorang pegiat kegiatan pemberdayaan masyarakat yang menyebut untuk setiap kelompok yang terdiri atas lima orang, terdapat seorang yang menyetujui perbaikan, seorang “bikin onar”, dan sisanya “mengalir saja”. Yang dilakukan pegiat tadi adalah agar si baik dapat mengatasi pembikin onar, dengan demikian diikuti massa mengalir.

Sepuluh persen yang baik ini ada sekarang, namun tidak terlihat karena tertutup kelompok pembuat masalah yang diikuti massa, teman saya melanjutkan. Dengan jumlah penduduk 230 juta lebih, 10% tentulah kerumunan yang masif, sekitar 23 juta orang baik — jumlah yang sama untuk sisi sebaliknya.

Berikutnya tentu soal organisasi: kelompok manapun akan lebih solid, lebih dapat meraih keinginannya jika terorganisasi, atau dengan kata lain terdapat upaya-upaya meraih tujuan secara kolektif. Contoh klasik yang kerap ditunjukkan adalah komplotan pencopet di bus yang berisi penumpang, termasuk orang-orang pandai di dalamnya. Karena pencopet berkomplot, peluang mereka berhasil bertindak lebih besar dibanding perlawanan penumpuang yang datang masing-masing.

Jika perilaku korup sudah berjalin-berkelindan dan menggenangi banyak lingkungan, perilaku terorganisasi atau perasaan senasib sebagai pelaku kebobrokan dapat menekan ajakan kebaikan yang dijalankan secara sporadis. Ada lagi: kecemasan dan perilaku buruk sering menyebar instan atas tujuan jangka pendek, sebaliknya kebaikan perlu waktu lebih lama karena acapkali bertujuan jangka panjang. Got mampet langsung dibayar impas berupa genangan air saat hujan datang, sedangkan manfaat pembangunan irigasi yang benar sering tidak disadari — alhasil, banyak dipertanyakan di tengah jalan.

Kendati bersifat romantisme, sampaikan kebaikan: agar mengalir sehat, mengajak orang lain, dan teguh sebagai keyakinan.