Agama dan Spiritualisme

Saya menjumpai beberapa tulisan yang memberi penekanan perbedaan antara agama dan spiritualisme dalam konteks yang tidak tepat, biasanya dalam bentuk sbb.:

  1. Agama dianggap memisah-misahkan manusia dalam sekat-sekat keyakinan, sedangkan spiritualisme merangkul semua manusia dalam satu pemahaman menuju Tuhan.
  2. Agama disebut lebih membuat penganutnya sibuk dengan aspek ritual mengarah kepada Tuhan, sedangkan spiritualisme terlihat lebih manusiawi, salah satunya karena pemahaman menuju Tuhan lewat apresiasi terhadap sesama manusia.

Penyebab munculnya perbedaan di atas a.l.:

  1. Agama tampil “tidak ramah” saat ini. Komentar tentang hal ini muncul secara implisit di buku Sejarah Tuhan oleh Karen Armstrong, bahwa untuk bertahan, perlu dilakukan revitalisasi terhadap agama. Konteksnya dalam hal menjawab masalah kekinian. Secara praktis di lapangan, lebih-lebih di Indonesia, kerap dijumpai gerakan yang menggunakan label agama tampil galak dan menakutkan atau seseorang yang diidentikkan sebagai pemuka agama tampil tidak ramah terhadap sesama.
  2. Pada sisi sebaliknya, memang sedang terjadi gerakan meninggalkan agama. Secara pukul rata agama dianggap mitos lama yang sudah tidak relevan dengan perkembangan dunia, ilmu pengetahuan khususnya, dan keyakinan baru tampil lebih dekat terhadap spiritualisme.

Saya ajukan pertanyaan: dapatkah dienul Islam diterjemahkan sebagai “spiritualisme Islam” jika memang spiritualisme dianggap “lebih baik” daripada agama? Soalnya setahu saya “agama” — kendati berasal dari bahasa Sansekerta, merupakan padanan untuk dien dalam bahasa Arab.

Jawaban bagus yang datang tentang tanya-jawab Rasulullah dengan malaikat Jibril perihal makna Islam, iman, dan ihsan. Saya setuju dengan jawaban tsb., karena makna berislam dan beriman, yang kemudian dikodifikasi sebagai Rukun Islam dan Rukun Iman, menggambarkan dengan baik soal beragama Islam (ritual) dan beriman sebagai keyakinan. Tafsir kedua rukun tsb. sudah lengkap dibahas berkitab-kitab oleh para ulama terdahulu dan untuk keperluan praktis sehari-hari sudah memadai.

Saya coba kembalikan ke definisi istilah dan hasilnya sbb.:

Agama: ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Penjelasan di atas cocok dengan definisi religion di kamus bahasa Inggris:

Religion: a set of beliefs concerning the cause, nature, and purpose of the universe, especially when considered as the creation of a superhuman agency or agencies, usually involving devotional and ritual observances, and often containing a moral code governing the conduct of human affairs.

Cukup lengkap: dari soal keimanan/kepercayaan hingga aturan hubungan manusia, jadi pengertian agama tidak hanya tentang syariat/undang-undang.

Tentang spiritualisme dalam bahasa Indonesia, dari tiga arti yang disajikan, poin pertama cocok dengan pembahasan ini,

Spiritualisme: aliran filsafat yang mengutamakan kerohanian.

Penjelasan di atas juga cocok dengan definisi spiritualism di kamus bahasa Inggris yang berisi beberapa poin dan satu yang terkait pembahasan ini,

Spiritualism: spiritual quality or tendency

Alhasil, jika dikaitkan dengan jawaban jelas oleh Rasulullah perihal islam, iman, dan ihsan, ketiganya secara keseluruhan adalah agama/dien dan dari pengalaman diajari tentang ketiganya sejak di Sekolah Dasar merupakan satu paket pendidikan. Rukun Islam dan Rukun Iman misalnya, menjelaskan hal-hal yang berbeda, namun tetap dalam satu paket tentang pelajaran agama Islam. Dengan memilih menjadi muslim (beragama) memang “mengotakkan” dalam satu definisi, ini tidak terelakkan, seperti halnya memilih menjadi WNI ya “mengotakkan” dalam definisi warga Indonesia.

Jika setelah beragama ternyata penganutnya abai terhadap faktor kerohanian, silakan ditinjau apakah ybs. sudah benar dalam beragama atau masih berat sebelah. Jadi bukan membandingkan beragama dengan “faktor spiritual”, melainkan pemahaman atau pelaksanaan agama (lebih-lebih dalam Islam) belum lengkap/berimbang seperti yang seharusnya menjadi pegangan seorang muslim. Mungkin dalam hal ini yang lebih dekat untuk dibandingkan antara elemen syariah/aturan dan kerohanian; walaupun, saya lebih suka melihat dari sisi ilmu fikih dan akhlak, lebih mudah dijelaskan buat saya sebagai muslim.