Kisah Musa dan Proses

Ikhtisar tausiyah oleh Sanusi Uwes di Masjid Ulul Albab, Jl. Kawung Ungu, Sukaluyu, Bandung 40123, 14 Mei 2015.


Penjelasan dimulai dari tafsir ayat yang dibacakan saat salat subuh: kisah Musa alaihissalam menerima perintah Tuhan di lembah. Gambaran lembah dalam persepsi orang Indonesia adalah tempat yang lebih rendah dibandingkan sekitarnya, sedangkan dalam film The Ten Commandments ditampilkan dalam bentuk ketinggian, yakni bukit atau gunung. Musa sampai di sana setelah perjalanan panjang dari Mesir –setelah kejadian pembunuhan di Mesir dan Musa melarikan diri dikejar-kejar warga Mesir, kemudian sampailah di Madyan, membantu dua perempuan yang sedang menggembalakan ternak, dan kemudian dipertemukan dengan ayah mereka, Syuaib alaihissalam. Dinikahkanlah Musa dengan salah seorang perempuan tsb. dengan mahar bekerja sebagai penggembala selama delapan tahun, yang kemudian digenapkan menjadi sepuluh tahun oleh Musa. Hal itu semua dijelaskan dalam Al Quran, demikian keterangan ustaz.

Dari kisah Musa di Mesir, dijelaskan di dalam Quran bahwa Allah menurunkan beberapa kali peringatan: kedatangan katak, ular, belalang, dan air sungai menjadi darah. Pada setiap peringatan tsb. Musa berdoa untuk mengatasi masalah tsb. dan dengan izin Allah dapat diatasi, namun Firaun yang sebelumnya berjanji tunduk pada Allah, setelahnya mengingkari lagi janji tsb. Hingga akhirnya Allah memerintahkan Musa untuk menghadapi langsung Firaun yang sudah keterlaluan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kisah Musa tsb. berlanjut hingga mukjizat yang sangat terkenal, yaitu dibelahnya Laut Merah.

Moral dari kisah-kisah ini, demikian Ustaz Uwes mulai membuka paruh kedua tausiyahnya, adalah peringatan dari Allah senantiasa melewati proses-proses dan bagian inilah yang perlu dijadikan pelajaran oleh umat Islam. Selalu ada proses pertama, kedua, dst. yang cukup panjang. Dengan demikian jika kita berdoa, maka yang juga penting dicamkan adalah harus diikuti dengan menjalani proses menuju harapan dalam doa tsb., yaitu berusaha, ikhtiar manusia.

Penciptaan Adam alaihissalam pun juga demikian: bukan diciptakan kemudian langsung memahami isi alam semesta, tetapi ada masa dikenalkan, dididik, dan diuji. Bahkan ketetapan manusia sebagai khalifah di muka bumi pun diuji dengan kejadian pohon di dalam surga dan kemudian manusia diturunkan ke muka bumi. Semua ada prosesnya dan mengikuti sunnatullah atau hukum alam.

Oleh karena itu dalam berdoa, jangan menjadikan Allah sebagai suruhan untuk keinginan ini dan itu, melainkan harus diimbangi dengan usaha yang keras dan bersedia mengikuti proses-proses tsb. Ini yang saya lihat masih kurang dipahami oleh umat Islam di Indonesia, komentar ustaz. Memang ada kejadian yang langsung tanpa melewati proses, namun itu sangat khusus, yaitu mukjizat.


Demikian tausiyah setelah salat subuh tadi pagi. Dari beberapa kali saya dengar tema tentang berdoa dan berusaha, Sanuwi Uwes selalu menekankan sunnatullah dalam hal hukum-hukum alam yang saling melengkapi dengan ketentuan dari Allah subhanahu wataala.