Keriangan

Tentu sangat memalukan, blog ini dipasangi slogan Mengembalikan Keriangan Menulis, namun jangankan menjadi riang bahkan tanda-tanda rajin ditambahi tulisan baru pun belum tampak.

Menyedihkan!

Usaha awal agar tulisan untuk blog ini lebih sering dan lebih teratur lewat catatan di Asana, yang terpilih sebagai alat bantu manajemen proyek untuk keperluan kantor dan juga pribadi. Sayang sekali, upaya ini belum dapat dijalankan optimal, salah satu penyebabnya kurang disiplin antara rencana versus realisasi. Kandas pada pelaksanaan.

Continue reading

Undangan “Worldwide Photowalk 2014” untuk Bandung

Sebelumnya saya pasang promosi photowalk di blog #direktif, untuk sekarang sepertinya lebih afdal dipindah ke sini dan akan dilanjutkan dengan tulisan-tulisan tentang kegiatan photoblog saya. Tidak ada alasan khusus, lebih pada kesesuaian sepihak.

Ringkasnya saya sudah mendaftarkan Bandung untuk diikutkan di Worldwide Photowalk yang secara serentak dikoordinasikan oleh Kelby, berskala dunia. Dukungan datang salah satunya dari Flickr dan secara sporadis dipromosikan oleh para penyelenggara di tiap-tiap kota. Sampai dengan hari ini tercatat baru ada tiga lokasi photowalk peserta acara ini untuk Indonesia.

Continue reading

A.S.

Pada mulanya Hillary Clinton berangkat menemui Morsi: konflik Gaza dapat diakhiri, poin untuk kubu Mesir. Musim semi Arab sudah bersemai.

Selanjutnya Suriah, beberapa analis Barat menyebut istilah sabuk Teheran-Baghdad-Lebanon-Damaskus. Polarisasi Sunni-Syiah: kubu Iran mengungkit-ungkit Morsi-Obama karena Saudi Arabia-Amerika Serikat sudah dianggap lazim.

Berlanjut dengan kejatuhan Morsi: Amerika Serikat menahan diri, Saudi langsung mengambil sikap. Kubu Saudi dan Mesir saling mengirim salvo. Kubu Iran mengambil pelajaran, soal Morsi-Obama terkadang disebut-sebut.

Suriah bergolak kembali, dunia cemas dengan risiko Perang Dunia. Giliran Kubu Iran vs. Saudi dan lagi-lagi peran Amerika Serikat dijadikan sindiran.

Sekarang komunikasi Rouhani-Obama membuka kebuntuan yang sudah berlangsung sejak 1979, apakah celetukan “soal-soal Amerika Serikat” terkait geopolitik Timur Tengah akan berlanjut? Continue reading

Bersepeda Seperti Sediakala

Sebenarnya dalam bayangan saya tentang bersepeda adalah seperti sediakala™.

Saat itu sepeda yang sudah dianggap bagus adalah “Phoenix, buatan RRT” (Republik Rakyat Tiongkok). KW-1 dst. dari Phoenix bertebaran, antara lain “Turangga” buatan Sidoarjo. Phoenix tsb. berharga Rp 150-an ribu pada masa itu dan sudah kinclong. Tanpa perlengkapan khusus seperti gigi sekian nomor, apalagi speedometer dan GPS. Perlengkapan tambahan hanya rem dan sandaran untuk parkir.

Untuk Bandung Utara, sepeda seadanya seperti ini memang menyengsarakan: saya pernah mencoba memboyong ke sini waktu kuliah, hanya untuk melaju dari pintu gerbang kampus bagian depan ke perpustakaan di belakang, perlu mengayuh berbonus tersengal-sengal, sedangkan pada arah sebaliknya, direpotkan oleh pengereman yang mendebarkan jantung lebih keras.

Sebaliknya, pada saat saya tinggal di Rancaekek, Bandung Timur, hampir semua urusan sehari-hari dilakukan dengan sepeda dan super-praktis. Dua unit sepeda untuk satu keluarga sudah nyaman mengitari kompleks perumahan sampai belanja ke pasar besar kecamatan. Penitipan sepeda berskala besar di stasiun kereta api Rancaekek juga disediakan, termasuk feature sepeda diamankan secara khusus jika pemiliknya tertinggal kereta api yang datang terakhir. Continue reading

Balasan Kebaikan

Seseorang dengan pikiran pendek mengambil kesimpulan gegabah, Tidak ada artinya kebaikan atau keburukanku, toh aku telah berlaku buruk pun tidak menjadikan masalah buatku!

Segumpal kesadaran dalam dirinya menyelinap dengan bisikan halus, Itulah Maha Pengasih dan Penyayang Tuhanmu: engkau berlaku buruk pun, tetap diberi kesempatan memikirkan perilakumu sendiri. Tidak malu kau?