Jelajah Pangandaran: Tarian Pesta Panen dan Ronggeng Gunung

Diiringi gerimis kami, rombongan Jelajah Pangandaran, sampai di hotel tempat kami menginap. Gambaran saya tentang Pangandaran dari sekira dua dasawarsa lalu benar-benar tak membekas, yang terbayang sekilas dari gerbang Pantai Pangandaran hingga hotel adalah suasana kota-pantai; tidak sebesar Kuta di Bali, tentu karena Pangandaran sendiri kabupaten. Pedagang Kaki Lima berjajar di bawah warung-tenda, penyewaan sepeda tersebar di beberapa titik ramai, dan wisatawan berkostum pantai berseliweran.

Di hotel kami disambut perwakilan dinas pariwisata setempat. Tanpa berlama-lama termasuk hanya meletakkan tas di kamar masing-masing, kami diundang mendatangi pertunjukan kesenian di Kampung Cikelu, Desa Sukahurip. Ternyata cukup jauh dari pantai, di daerah pertanian dalam kondisi sedang hujan, mobil rombongan melintasi jalan bak pematang sawah, seukuran sedikit melebihi lebar kendaraan. Continue reading

Jelajah Pangandaran 2012

Tanggal 24 November lalu saya berkesempatan mengikuti Jelajah Pangandaran 2012. Diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pelaksanaan acara ini dikerjakan Indecon. Jelajah Pangandaran berisi serangkaian acara dan kunjungan di kawasan dekat Pantai Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Setelah menempuh perjalanan sekira 5 jam Bandung-Pangandaran, acara di tujuan penjelajahan berlangsung dari 24 November pukul 19 hingga 26 November pukul 14. Reportase perjalanan tsb. akan dipublikasikan dalam beberapa tulisan di bawah ini:

  1. Jelajah Pangandaran 2012 (tulisan ini).
  2. Jelajah Pangandaran: Tarian Pesta Panen dan Ronggeng Gunung.

Terima kasih untuk Rendy Maulana yang telah mendaftarkan saya sebagai peserta.

Berapa lama perjalanan ke Pantai Pangandaran? Ini pertanyaan awal yang disampaikan teman lewat email setelah membaca reportase langsung Jelajah Pangandaran di status Facebook saya. Pada perjalanan kami Sabtu tsb. Bandung-Pantai Pangandaran ditempuh sekira enam jam, dengan satu jam beristirahat makan siang di dekat Cicalengka, Kab. Bandung Barat. Google Maps memberi prediksi lama perjalanan enam jam (tanpa istirahat).

Continue reading

Mengikuti Tablig Hari Moekti

Tak terencana, saya datang di Masjid Nurul Jamil tadi pagi melihat keramaian: sejumlah ibu anggota pengajian dan siswa-siswi Sekolah Menengah. Setelah diamati di spanduk kegiatan, barulah paham bahwa hari ini Ustad Hari Moekti akan datang menyampaikan tablig akbar. Seingat saya tahun lalu dia juga sempat datang berceramah di masjid ini, dan benar adanya disampaikan oleh pembawa acara dalam pengantarnya.

Hari Moekti bukan nama asing di akhir 1980-an. Istilah JJS untuk “Jalan-jalan Sore” menjadi populer saat itu, sekaligus memperkenalkan Jalan Melawai di sekitar Blok-M, Jakarta, yang dijadikan ilustrasi JJS. Versi “jalan-jalan Dago” juga disediakan untuk edisi penampilan di Bandung. Demikian juga frase “ada kamu” diangkat oleh Hari dan kabarnya menjadi salah satu hit. Setelah itu Hari mengundurkan diri dari ranah musik dan disebut-sebut oleh media menekuni kegiatan keagamaan. Publik tahu kabar tersebut dari awal, bersama dengan kabar musisi besar lain, Gito Rollies (alm.), namun ternyata ada juga yang baru tahu perubahan Hari Moekti di akhir dasawarsa ini.

Continue reading

Penyewaan Sepeda dalam Kota di Bandung

Setelah mendapat kabar dari teman dan diliput di media massa, saya berkesempatan singgah menjenguk salah satu halte penyewaan sepeda di Cikapayang, Dago. Bandung sedang mulai memperbaiki diri: diprakarsai oleh Bandung Creative City Forum (BCCF), penyewaan sepeda dalam kota, diberi nama bike.bdg, diresmikan walikota di Jalan Pajajaran, 10 Mei lalu. Segera hal ini mengingatkan akan “taksi sepeda” di Paris, Prancis.

Parijs van Java, yeuh!

Continue reading

Kuliah Umum “Islam, Indonesia, dan Pancasila”

Kemarin sore saya menyempatkan diri mendatangi Kuliah Umum yang diselenggarakan Masjid Salman ITB. Berjudul Islam, Indonesia, dan Pancasila, kuliah umum disampaikan oleh Yudi Latif, penulis buku Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila. Tema yang menarik bagi saya dengan harapan akan gambaran yang lebih teduh untuk mempertemukan agama dan kebangsaan.

Sedikit yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah tulisan yang dipilih sebagai pengantar di undangan Facebook untuk Kuliah Umum ini,

INILAH ironi kolektif bangsa yang gagal. Ibarat sudah memegang mutiara, tapi malah dikubur dan berusaha mencari mutiara lain di tumpukan puing-puing kehancuran rumah milik orang lain.

Mungkin itulah salah satu analogi tentang eksistensi Pancasila sebagai dasar negara Republik ini yang semakin pudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi yang diperagakan penyelenggara negara dan kroni-kroninya, tindak kekerasan yang terus masif atas nama pembenaran privat, dan praktik ekonomi yang timpang, serta lemahnya akses-akses bagi warga negara untuk memperoleh hak-hak mendasar adalah secuil bukti kebobrokan negara ini.

— Sumber: Negara Paripurna itu Semakin Menjauh.

Frase “ironi kolektif” dan “gagal” seperti bersahutan dengan “keterpurukan” yang menimbulkan suasana tidak nyaman. Semoga diskusi tsb. tidak menjadi acara ratapan berjemaah.

Continue reading