<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ikhlasul Amal</title>
	<atom:link href="http://ikhlasulamal.name/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ikhlasulamal.name</link>
	<description>Mengembalikan keriangan menulis</description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 Feb 2012 15:57:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Moleskine</title>
		<link>http://ikhlasulamal.name/2012/01/moleskine/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=moleskine</link>
		<comments>http://ikhlasulamal.name/2012/01/moleskine/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 16:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Luar Kotak]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Moleskine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhlasulamal.name/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Seorang teman terlihat memberi jempol untuk halaman Moleskine Asia di Facebook. Moleskine, teringat saat membaca tulisan beberapa desainer lewat blog dan karena penasaran saya tanyakan ke Boy Avianto sebenarnya apa keistimewaan buku catatan tsb. Dengan jujur Boy menjelaskan ya mirip &#8230; <a href="http://ikhlasulamal.name/2012/01/moleskine/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang teman terlihat memberi jempol untuk halaman <a href="https://www.facebook.com/moleskineasia">Moleskine Asia di Facebook</a>. Moleskine, teringat saat membaca tulisan beberapa desainer lewat blog dan karena penasaran saya tanyakan ke <a href="http://home.avianto.com">Boy Avianto</a> sebenarnya apa keistimewaan buku catatan tsb. Dengan jujur Boy menjelaskan ya mirip saja dengan buku saku lain, namun dalam hal Moleskine ini ada aspek sentimental menggunakan merk tertentu yang sangat terkenal. Jawaban yang saya sukai karena toh fungsi buku tsb. lebih diprioritaskan ketimbang atributnya. Kendati, lanjut Boy, di buku tsb. ada nomor seri yang dapat didaftarkan lewat web dan itu menjadi catatan personal yang unik.</p>

<p>Tentu saya tidak tahu sejauh mana keunikan tsb. karena belum pernah membeli Moleskine dan hanya menikmati keanggunannya di sejumlah toko buku yang gemerlap. Iseng saya cari tulisan tentang Moleskine sore ini, hasilnya masih sama dengan tahun-tahun lalu, yaitu dilengkapi dengan harganya yang mahal. Padahal di halaman mereka di Facebook ada satu foto berisi tumpukan Moleskine diberi keterangan, <q>Berapa buku tumpukan milik Anda?</q> Sebagian komentator menjawab di bawah lima, namun ada kelompok kecil komentator yang menyebut banyak atau di atas sepuluh buku. Berarti kelompok berkecukupan yang menilai keelokan Moleskine sepadan dengan ide kreatif mereka yang dituangkan di lembar-lembarnya.</p>

<p><span id="more-40"></span></p>

<p>Dari situs web Moleskine Asia secara acak saya pilih satu jenis buku dan setelah dikonversi, berharga sekitar Rp&nbsp;125.000. Buku catatan semahal itu? Mengapa tidak, walau dapat menyebabkan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Desiderius_Erasmus">Erasmus</a> berpuasa berhari-hari jika duit yang disisihkan untuk membeli buku dari jatah makan dipakai untuk mengoleksi Moleskine.</p>

<p>Saya sendiri sedang berusaha &#8220;menulis lagi&#8221; termasuk di buku. Setelah berganti-ganti format, a.l. dipengaruhi kenyamanan menulis dan kepraktisan diselipkan di kantong ransel, sekarang ini saya sedang bereksperimen dengan buku sketsa Lyra. Seharusnya memang digunakan untuk menggambar sketsa, namun yang saya sukai karena berisi kumpulan kertas polos tanpa garis, kertas gambar &#8212; sehingga lebih tebal, dan buku tsb. dilindungi sampul plastik yang lebih tebal dan semoga membuat buku lebih rapi. Tampaknya jika kertas sudah terpakai dapat diisi ulang dengan setumpuk kertas gambar baru sesuai ukuran. Agak sangsi juga, apakah toko buku langganan saya masih akan rajin mendatangkan merk buku sketsa ini. Begitu juga untuk saya sendiri: apakah sudah efisien antara tulisan dan nilai kertas gambar. Untuk itu saya dibantu dengan satu buku lagi jenis yang sering dipakai untuk pelajaran di sekolah, dengan sampul tebal.</p>

<p><a href="http://ikhlasulamal.name/wp-content/uploads/2012/01/04.jpg.shadow.png"><img src="http://ikhlasulamal.name/wp-content/uploads/2012/01/04.jpg.shadow.png" alt="Lyra Sketch Book" title="Lyra Sketch Book" width="502" height="502" class="alignnone size-full wp-image-41" /></a></p>

<p>Betul, yang jauh lebih penting adalah rajin menulis dan membuat catatan sehari-hari.</p>

<p>Tentu tidak perlu menolak juga jika dihadiahi Moleskine.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhlasulamal.name/2012/01/moleskine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>1-1-2012</title>
		<link>http://ikhlasulamal.name/2012/01/112012/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=112012</link>
		<comments>http://ikhlasulamal.name/2012/01/112012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 16:21:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Remah-remah]]></category>
		<category><![CDATA[2012]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tema]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhlasulamal.name/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang akhir 2011 terpikir blog-blog yang saya urus selama ini perlu disegarkan. Tentu dengan lebih banyak tulisan lagi, yang berarti harus ada cara agar lebih sering terpacu menulis. Tidak hanya yang bercecer di Facebook dan Google Plus. Untuk mikroblog, saya &#8230; <a href="http://ikhlasulamal.name/2012/01/112012/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang akhir 2011 terpikir blog-blog yang saya urus selama ini perlu disegarkan. Tentu dengan lebih banyak tulisan lagi, yang berarti harus ada cara agar lebih sering terpacu menulis. Tidak hanya yang bercecer di Facebook dan Google Plus. Untuk mikroblog, saya merasa agak bosan dan dibatasi ukuran mereka yang terlalu ringkas dan menjadi sekadar percakapan terus-menerus layaknya IRC di masa lalu yang saya juga tidak betah.</p>

<p>Lewat tema WordPress!<br />
Selama ini saya kumpulkan <a href="http://delicious.com/ikhlasulamal/wordpress+theme">tautan artikel tentang tema WordPress</a>, sudah seharusnya dipilih dan dimanfaatkan. Betul, ini memang semata-mata kosmetik, namun asyik juga melihat halaman blog necis. Pilihan <a href="http://wp.smashingmagazine.com/2011/07/05/free-wordpress-themes-2011-edition/">Smashing Magazine untuk 2011</a> sudah layak dan kandidat sudah dipersiapkan rencana ini. Minimalis dan bersih &#8212; dua syarat awal sebelum berkembang pada keperluan lain. Mengapa tidak?</p>

<p>Dari Google Plus terbaca ajakan <a href="https://plus.google.com/u/0/100145856129045595138/posts/6vrsD9pab1W">Matt Cutts</a> untuk memulai tahun 2012 dengan melakukan hal yang rutin, yang agak berbeda, selama 30&nbsp;hari dulu, berarti dicoba untuk Januari. Akur dan mari dimulai. Oh ya, tulisan bebas dipasang di sembarang  situs web asuhan sendiri.</p>

<p>Selamat datang 2012.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhlasulamal.name/2012/01/112012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Persen</title>
		<link>http://ikhlasulamal.name/2011/11/sepuluh-persen/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=sepuluh-persen</link>
		<comments>http://ikhlasulamal.name/2011/11/sepuluh-persen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 02:25:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Remah-remah]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pareto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhlasulamal.name/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Ada 10% orang baik, 10% orang bermasalah, dan 80% mengikuti yang sedang dominan saja. Ini pendapat teman tentang keadaan Indonesia saat ini. Rasio 20:80 sudah umum dikenal, disebut sebagai Prinsip Pareto. Dua puluh persen sumberdaya menggerakkan delapan puluh persen aktivitas. &#8230; <a href="http://ikhlasulamal.name/2011/11/sepuluh-persen/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p>Ada 10% orang baik, 10% orang bermasalah, dan 80% mengikuti yang sedang dominan saja.</p>
</blockquote>

<p>Ini pendapat teman tentang keadaan Indonesia saat ini. Rasio 20:80 sudah umum dikenal, disebut sebagai <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pareto_principle" title="Pareto Principle">Prinsip Pareto</a>. Dua puluh persen sumberdaya menggerakkan delapan puluh persen aktivitas. Dipilah menjadi dua kelompok di atas tampaknya untuk menekankan hal tsb. penting dalam kasus di sekitar kita. Saya juga pernah mendengar paparan salah seorang pegiat kegiatan pemberdayaan masyarakat yang menyebut untuk setiap kelompok yang terdiri atas lima orang, terdapat seorang yang menyetujui perbaikan, seorang &#8220;bikin onar&#8221;, dan sisanya &#8220;mengalir saja&#8221;. Yang dilakukan pegiat tadi adalah agar si baik dapat mengatasi pembikin onar, dengan demikian diikuti massa mengalir.</p>

<p><span id="more-34"></span></p>

<p><q>Sepuluh persen yang baik ini ada sekarang, namun tidak terlihat karena tertutup kelompok pembuat masalah yang diikuti massa</q>, teman saya melanjutkan. Dengan jumlah penduduk 230&nbsp;juta lebih, 10% tentulah kerumunan yang masif, sekitar 23&nbsp;juta orang baik &#8212; jumlah yang sama untuk sisi sebaliknya.</p>

<p>Berikutnya tentu soal organisasi: kelompok manapun akan lebih solid, lebih dapat meraih keinginannya jika terorganisasi, atau dengan kata lain terdapat upaya-upaya meraih tujuan secara kolektif. Contoh klasik yang kerap ditunjukkan adalah komplotan pencopet di bus yang berisi penumpang, termasuk orang-orang pandai di dalamnya. Karena pencopet berkomplot, peluang mereka berhasil bertindak lebih besar dibanding perlawanan penumpuang yang datang masing-masing.</p>

<p>Jika perilaku korup sudah berjalin-berkelindan dan menggenangi banyak lingkungan, perilaku terorganisasi atau perasaan senasib sebagai pelaku kebobrokan dapat menekan ajakan kebaikan yang dijalankan secara sporadis. Ada lagi: kecemasan dan perilaku buruk sering menyebar instan atas tujuan jangka pendek, sebaliknya kebaikan perlu waktu lebih lama karena acapkali bertujuan jangka panjang. Got mampet langsung dibayar impas berupa genangan air saat hujan datang, sedangkan manfaat pembangunan irigasi yang benar sering tidak disadari &#8212; alhasil, banyak dipertanyakan di tengah jalan.</p>

<p>Kendati bersifat romantisme, sampaikan kebaikan: agar mengalir sehat, mengajak orang lain, dan teguh sebagai keyakinan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhlasulamal.name/2011/11/sepuluh-persen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amanah dari Lipatan</title>
		<link>http://ikhlasulamal.name/2011/11/amanah/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=amanah</link>
		<comments>http://ikhlasulamal.name/2011/11/amanah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 09:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Remah-remah]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia yang Dilipat]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhlasulamal.name/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Seperti paparan saya tentang memaksa diri sendiri agar disiplin berkarya dan keyakinan bahwa jumlah latihan penting, seharusnya sekarang ini saya dapat mengulang pemaksaan di masa lalu, misalnya satu tulisan setiap hari, disebar ke beberapa tempat kegiatan blog. Situs ini, #direktif, &#8230; <a href="http://ikhlasulamal.name/2011/11/amanah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti paparan saya tentang memaksa diri sendiri agar disiplin
berkarya dan keyakinan bahwa jumlah latihan penting, seharusnya
sekarang ini saya dapat mengulang pemaksaan di masa lalu, misalnya
satu tulisan setiap hari, disebar ke beberapa tempat kegiatan blog.
Situs ini, <a href="http://direktif.web.id">#direktif</a>, <a href="https://plus.google.com/u/0/100145856129045595138/about">Google
Plus</a>, dan
satu lagi <a href="http://wislog.blogspot.com">Wislog</a>, harus diisi
secara rutin. Masak kalah oleh semangat memasang foto di Flickr?</p>

<p>Salah satu alat latihan yang sudah saya gunakan beberapa kali adalah
Facebook. Dengan ukuran teks yang lebih leluasan dibanding
mikroblog, Facebook terasa nyaman. Hal serupa yang terasa
mengasyikkan di Google Plus. Sayang juga jika ide-ide disebar
serampangan di mikroblog, apalagi ditandai urutan angka. Saya
setuju penuh dengan <a href="http://affanzbasalamah.wordpress.com/2011/04/04/10-alasan-kenapa-kultwit-harusnya-dijadikan-blog-saja/">tulisan Affan Basalamah tentang
kultwit</a>,
sampaikanlah dengan elegan.</p>

<p><span id="more-30"></span></p>

<p>Seorang teman menyarankan saya menuliskan bagian-bagian penting dari
buku yang sedang saya baca. Usulnya seperti doa kemarin sore: <a href="http://myudhaps.wordpress.com/">Yudha
P. Sunandar</a> tiba-tiba menghadiahi saya buku tebal dan bertopik
berat, <a href="http://www.kutukutubuku.com/2008/open/22454/dunia_yang_dilipat_"><cite>Dunia yang
Dilipat</cite></a>,
oleh <a href="https://www.facebook.com/people/Yasraf-Amir-Piliang/1470919345">Yasraf Amir Piliang</a>.
Tentu gembira dihadiahi buku, <q>Terima kasih, Yudha!</q></p>

<p><a href="http://ikhlasulamal.name/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4705_r.png"><img src="http://ikhlasulamal.name/wp-content/uploads/2011/11/IMG_4705_r.png" alt="&quot;Dunia yang Dilipat&quot;" title="Dunia yang Dilipat" width="429" height="216" class="aligncenter size-full wp-image-32" /></a></p>

<p>Mulailah terasa bahwa ini amanah dan tantangan agar khazanah yang
ada di buku tsb. tidak berhenti sampai saya baca, melainkan harus
terus dialirkan. Harus sanggup, coba dulu! Bismillah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhlasulamal.name/2011/11/amanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belanja Konsumsi Ramadan</title>
		<link>http://ikhlasulamal.name/2011/08/belanja-ramadan/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=belanja-ramadan</link>
		<comments>http://ikhlasulamal.name/2011/08/belanja-ramadan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Aug 2011 02:33:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Luar Kotak]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[inflasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhlasulamal.name/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Ramadan 1432H hari ini berakhir. Salah satu pengulangan pembicaraan sejak sebelum Ramadan adalah konsumsi kaum muslimin/muslimat dalam &#8220;bulan menahan diri&#8221; ini. Terlihat dari perilaku sehari-hari di sekitar hingga perhitungan lembaga terkait, konsumsi umat Islam terlihat menaik. Sebagai tulisan yang bersifat &#8230; <a href="http://ikhlasulamal.name/2011/08/belanja-ramadan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadan 1432H hari ini berakhir. Salah satu pengulangan pembicaraan
sejak sebelum Ramadan adalah konsumsi kaum muslimin/muslimat dalam
&#8220;bulan menahan diri&#8221; ini. Terlihat dari perilaku sehari-hari di
sekitar hingga perhitungan lembaga terkait, konsumsi umat Islam
terlihat menaik. Sebagai tulisan yang bersifat introspeksi, tentu
baik adanya: mengingatkan kita kaum muslimin agar senantiasa
menjauhi pemborosan, karena &#8220;mubazir itu teman setan&#8221;, dan
lebih-lebih bertentangan dengan salah satu semangat bulan Ramadan,
yaitu berempati terhadap bagian dari umat yang kekurangan.</p>

<p>Namun ada pula yang dengan spekulatif menjadikan hal ini seperti
tudingan terhadap umat Islam secara umum, bahwa Ramadan telah
merepotkan kondisi perekonomian di Indonesia karena nafsu belanja
yang meningkat &#8212; dan berpotensi &#8220;gila-gilaan&#8221;, sehingga berujung
pada kenaikan inflasi. Karena Ramadan akan datang sepanjang tahun
Qomariyah, apakah hal ini akan menjadi rutinitas?</p>

<p><span id="more-25"></span></p>

<p>Bagaimana sebenarnya kondisi perputaran uang selama bulan Ramadan
tsb.? Fakta yang terkumpul:</p>

<ol>
<li>Firma riset Nielsen memperkirakan konsumsi barang-habis sebesar Rp&nbsp;25,74&nbsp;trilyun, naik sekitar 12% dibanding Ramadan sebelumnya.</li>
<li>Bank Indonesia menyebut sirkulasi uang untuk Ramadan&nbsp;2011 sebesar Rp&nbsp;61,46&nbsp;trilyun. </li>
<li>Penduduk Indonesia sekarang ini sekitar 238&nbsp;juta dan jumlah pemudik sekitar 15&nbsp;juta.</li>
</ol>

<p><a href="http://ikhlasulamal.name/wp-content/uploads/2011/08/Ikhlasul-Amal_1314670592568_shadow.png"><img src="http://ikhlasulamal.name/wp-content/uploads/2011/08/Ikhlasul-Amal_1314670592568_shadow.png" alt="" title="Belanja Konsumsi di Bulan Ramadan" width="509" height="173" class="alignnone size-full wp-image-26" /></a></p>

<p>Secara sambil lalu, angka-angka trilyunan di atas mengesankan jumlah
yang luar biasa banyak dan potensial dijadikan bahan retorika.
Padahal, coba lakukan pembagian antara konsumsi tsb. dan jumlah
penduduk Indonesia, akan diperoleh angka sekitar
Rp&nbsp;108&nbsp;ribu/orang/bulan. Saya gunakan pembagi berupa jumlah
penduduk Indonesia karena yang turut mengonsumsi dan memutar duit
sehari-hari adalah semua penduduk Indonesia. Tidak dibedakan ybs.
muslim atau bukan, berpuasa atau tidak.</p>

<p>Jumlah Rp&nbsp;108&nbsp;ribu/orang/bulan relatif kecil, berarti
hanya sekitar Rp&nbsp;6.000/orang/hari. Setara dengan satu porsi
menu paling sederhana di warteg. Di The Jakarta Globe ditulis
ilustrasi beberapa narasumber yang <a href="http://www.thejakartaglobe.com/lifestyle/how-much-does-ramadan-cost/461430">mengaku memang menghabiskan uang
untuk belanja dan makan di luar lebih banyak dibanding hari-hari
biasa</a>. Dalam pengakuan itu, faktor seperti &#8220;balas dendam&#8221; setelah
sehari tidak makan/minum menyebabkan belanja saat dan setelah
berbuka menjadi lebih banyak dibanding hari-hari biasa. Disebut pula
bahwa sekali makan salah satu narasumber menghabiskan
Rp&nbsp;50.000. Artinya, angka rata-rata Rp&nbsp;108&nbsp;ribu/bulan
tadi habis hanya untuk belanja makan dua hari. Dengan demikian isu
pemerataan masih relevan dalam hal ini, yaitu antara kelompok yang
memang bertambah konsumsinya dan kelompok lain yang sebenarnya
&#8220;tetap-tetap saja&#8221; atau &#8220;malah berhemat&#8221; dengan berpuasa Ramadan.</p>

<p>Termasuk juga secara sekilas terlihat perbedaan gaya hidup urban
dengan di kampung, semisal pada acara buka bersama yang menjadi tren
undang-mengundang dan ajang acara silaturahim, apapun tujuannya, di
kota. Peningkatan ongkos konsumsi tampak tidak terelakkan karena
beberapa konsekuensi:</p>

<ol>
<li>Perubahan pola hidup berkaitan dengan Ramadan. Semua transisi perlu ongkos selama perubahan sampai dengan kondisi stabil kembali. Termasuk dalam hal ini, perubahan kesibukan dari siang menjadi malam, waktu berkegiatan (contoh: buka puasa) yang pendek (sehingga terjadi antrean). Hal-hal seperti ini tidak terelakkan dalam skala besar seperti di kota, yang dapat dilakukan adalah menguranginya.</li>
<li>Perubahan interaksi sosial, seperti keinginan untuk menyelenggarakan acara bersama (dari keluarga hingga reuni komunitas), keinginan membantu sesama dalam bentuk sedekah. Apapun latar belakangnya, terjadi aliran uang yang sangat mungkin berbeda dengan hari-hari biasa dan berjumlah lebih banyak. Secara umum, hal ini akan meningkatkan jumlah putaran uang yang dihitung oleh Bank Indonesia.</li>
</ol>

<p>Ongkos sisanya adalah keperluan-keperluan lain yang sebenarnya tidak
esensial, namun karena beberapa budaya yang disandingkan begitu saja
dengan ibadah puasa di bulan Ramadan, seolah-olah dianggap &#8220;bagian
dari Ramadan&#8221;. Tidak ada anjuran untuk &#8220;makan lebih enak&#8221; dan
&#8220;berkumpul ramai-ramai&#8221;. Begitu pula dengan mudik yang menjadi
tradisi silaturahim dalam bentuk eksodus sangat besar, sangat
berpotensi memberi kontribusi signifikan pada perputaran uang selama
Ramadan. Perhelatan 15&nbsp;juta manusia saat mudik ini tidak ada
hubungan dengan bulan Ramadan.</p>

<p>Angka-angka di atas kemungkinan besar akan naik dari tahun ke tahun,
penyebabnya jumlah penduduk yang meningkat dan rata-rata belanja
juga ikut bertambah, semisal terkait dengan peningkatan kualitas
belanjaan. Ini semua tidak selalu terkait atau disebabkan oleh
Ramadan, oleh karena itu, &#8220;memang benar peningkatan inflasi terjadi
di bulan Ramadan, namun bukan serta-merta amalan bulan Ramadan itu
sebagai penyebab&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhlasulamal.name/2011/08/belanja-ramadan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tinggal Sehari Besok</title>
		<link>http://ikhlasulamal.name/2011/08/besok/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=besok</link>
		<comments>http://ikhlasulamal.name/2011/08/besok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 23:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Remah-remah]]></category>
		<category><![CDATA[akhir]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[ojeg]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhlasulamal.name/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Tinggal sehari besok&#8221;, terdengar bisik-bisik seorang jemaah Subuh di masjid. Ada yang merasa tercekam akan berpisah dengan bulan mulia, ada juga yang seperti menghela nafas lega. Saya tidak ingin gegabah memvonis: masing-masing memiliki latar belakang dan tetap ada rahasia Allah &#8230; <a href="http://ikhlasulamal.name/2011/08/besok/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Tinggal sehari besok&#8221;, terdengar bisik-bisik seorang jemaah Subuh di masjid. Ada yang merasa tercekam akan berpisah dengan bulan mulia, ada juga yang seperti menghela nafas lega. Saya tidak ingin gegabah memvonis: masing-masing memiliki latar belakang dan tetap ada rahasia Allah terhadap kondisi hamba-Nya.</p>

<p><a href="http://ikhlasulamal.name/wp-content/uploads/2011/08/ramadan-berakhir-facebook-drop.png"><img src="http://ikhlasulamal.name/wp-content/uploads/2011/08/ramadan-berakhir-facebook-drop.png" alt="" title="Ramadan Berakhir" width="535" height="159" class="alignnone size-full wp-image-24" /></a></p>

<p>Yang saya syukuri: beberapa kali saya bertemu tukang ojeg kenalan
sedang salat zuhur di masjid di akhir Ramadan ini, selain beberapa
sopir angkot yang memang sudah berlangganan salat berjemaah di
masjid. Pangkalan ojeg di ujung jalan sudah lebih sepi, mengikuti
aktivitas di sekitar yang mulai menurun. Kesibukan yang sedikit
meningkat di masjid membawa harapan karena terlihat ada penumpang
ojeg minta diantar meninggalkan masjid.</p>

<p><span id="more-23"></span></p>

<p>Ingin rasanya berandai-andai &#8212; semacam harapan, seperti doa &#8211;
bahwa keteduhan masjid, ketenangan salat berjemaah, akan lebih
melengkapi ibadah banyak orang, khususnya setelah bulan Ramadan
nanti. Apapun alasan kedatangan tambahan jemaah masjid di bulan
Ramadan ini, sangat baik didoakan agar menjadi pertimbangan untuk
selalu mengingat jati diri dan perjalanan hidup di dunia.</p>

<p>Lebih-lebih kepada sebagian dari kita yang memiliki &#8220;energi&#8221; sangat
besar untuk ingin tetap bersama bulan mulia &#8212; sehingga terasa
sangat berat untuk berpisah, akan lebih baik keinginan tersebut
disalurkan, ditularkan, menjadi doa untuk saudara-saudara yang lain
yang sedang mencoba memahami kenikmatan mendekatkan diri kepada
Allah <abbr title="Subhanahu Wa Ta'ala">SWT</abbr>. Rasa sukacita
akan kedatangan Ramadan yang telah lewat, pun perasaan kehilangan
masa akan berpisah sekarang, akan menjadi lebih elok dipahami
sebagai empati bersama. Bahwa kadar waktu yang kita jalani sudah
diketahui Allah untuk hamba-Nya.</p>

<p>Insya Allah kita akan berjumpa dengan Ramadan berikutnya, dengan
dasar kehendak Allah. Dengan keterbatasan karena kita tidak
mengetahui sedikit pun tentang masa depan, lanjutkan yang bermakna
dari bulan ini sebagai kebiasaan untuk besok dan seterusnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhlasulamal.name/2011/08/besok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuliah Umum &#8220;Islam, Indonesia, dan Pancasila&#8221;</title>
		<link>http://ikhlasulamal.name/2011/08/islam/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=islam</link>
		<comments>http://ikhlasulamal.name/2011/08/islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 02:26:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kebangsaan]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Salman]]></category>
		<category><![CDATA[Yudi Latif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhlasulamal.name/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin sore saya menyempatkan diri mendatangi Kuliah Umum yang diselenggarakan Masjid Salman ITB. Berjudul Islam, Indonesia, dan Pancasila, kuliah umum disampaikan oleh Yudi Latif, penulis buku Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila. Tema yang menarik bagi saya dengan harapan &#8230; <a href="http://ikhlasulamal.name/2011/08/islam/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin sore saya menyempatkan diri mendatangi Kuliah Umum yang
diselenggarakan Masjid Salman <abbr title="Institut Teknologi Bandung">ITB</abbr>.
Berjudul <a href="http://upcoming.yahoo.com/event/8254367"><cite>Islam, Indonesia, dan Pancasila</cite></a>, kuliah umum
disampaikan oleh <a href="http://psik-indonesia.org/home.php?page=penulis&amp;id=9">Yudi
Latif</a>,
penulis buku <a href="http://www.goodreads.com/book/show/11706499-negara-paripurna"><cite>Negara Paripurna:
Historitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila</cite></a>. Tema yang
menarik bagi saya dengan harapan akan gambaran yang lebih teduh
untuk mempertemukan agama dan kebangsaan.</p>

<p>Sedikit yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah tulisan yang
dipilih sebagai pengantar di undangan Facebook untuk Kuliah Umum
ini,</p>

<blockquote cite="http://www.mediaindonesia.com/jendelabuku/2011/07/18/negara-paripurna-itu-semakin-menjauh/">
<p>
INILAH ironi kolektif bangsa yang gagal. Ibarat sudah memegang mutiara, tapi malah dikubur dan berusaha mencari mutiara lain di tumpukan puing-puing kehancuran rumah milik orang lain.
</p>
<p>
Mungkin itulah salah satu analogi tentang eksistensi Pancasila sebagai dasar negara Republik ini yang semakin pudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi yang diperagakan penyelenggara negara dan kroni-kroninya, tindak kekerasan yang terus masif atas nama pembenaran privat, dan praktik ekonomi yang timpang, serta lemahnya akses-akses bagi warga negara untuk memperoleh hak-hak mendasar adalah secuil bukti kebobrokan negara ini.
</p>

<p>&#8211; Sumber: <a href="http://www.mediaindonesia.com/jendelabuku/2011/07/18/negara-paripurna-itu-semakin-menjauh/"><cite>Negara
Paripurna itu Semakin Menjauh</cite></a>.
</p>
</blockquote>

<p>Frase &#8220;ironi kolektif&#8221; dan &#8220;gagal&#8221; seperti bersahutan dengan
&#8220;keterpurukan&#8221; yang menimbulkan suasana tidak nyaman. Semoga
diskusi tsb. tidak menjadi acara ratapan berjemaah.</p>

<p><span id="more-20"></span></p>

<p><a href="http://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6063531069/" title="Author of &quot;Negara Paripurna&quot; by Ikhlasul Amal, on Flickr"><img src="http://farm7.static.flickr.com/6183/6063531069_2cbc647bb8.jpg" width="500" height="333" alt="Author of &quot;Negara Paripurna&quot;"/></a></p>

<p>Yudi Latif memerlukan waktu dua tahun untuk mengumpulkan dan
menganalisis dokumen-dokumen kelahiran Pancasila, terutama sejumlah
makalah di seputar rapat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Penyelidik_Usaha_Persiapan_Kemerdekaan_Indonesia"><abbr title="Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia">BPUPKI</abbr></a>, menjelang proklamasi
Indonesia. Apakah istilah <em>paripurna</em> yang digunakan sebagai judul
buku tsb. pengganti kata <em>final</em> yang dulu lazim digunakan dalam
frase <em>negara final</em> di zaman Orde Baru?</p>

<p>Kuliah umum diawali dengan paparan bahwa cara pandang terhadap Islam
sebagai agama, Indonesia sebagai tanah air dan bangsa, dan Pancasila
sebagai dasar negara menjadi tersekat-sekat dan cenderung
dipertentangkan dalam perjalanan bangsa Indonesia. Yudi menilai
bahwa klasifikasi yang disodorkan intelektual pada periode lalu
telah menyebabkan cara pandang tersebut berkepanjangan. Inilah
perlunya intelektual berhati-hati dalam melakukan klasifikasi. Yang
dimaksud adalah pengelompokan &#8220;kubu Islam&#8221; dan &#8220;kubu nasionalis&#8221;
(biasanya disebut juga sebagai &#8220;kubu sekuler&#8221;) selama rapat-rapat
<abbr>BPUPKI</abbr>. Hal ini menjadikan cara pandang bahwa kubu Islam sulit
menerima ide kebangsaan, sedangkan kubu nasionalisme tidak peduli
urusan agama. Padahal dalam beberapa pidato perwakilan mereka
terjadi &#8220;saling mengakomodasi&#8221; keperluan pihak lain. Sebagai
ilustrasi, Soekarno memilih kata &#8220;Mukaddimah&#8221; untuk pembukaan <abbr title="Undang Undang Dasar">UUD</abbr>, dibanding &#8220;Declaration&#8221; yang
diusulkan perwakilan kelompok Islam. Demikian pula untuk beberapa
konsep dasar yang kemudian dirumuskan selama persiapan proklamasi tsb.</p>

<p>Di bagian berikutnya, Yudi menjelaskan keterkaitan sila-sila dalam
Pancasila dengan konsep dasar dalam semangat Islam dan dikaitkan
pula dengan kondisi Republik yang memang heterogen. Termasuk
heterogen secara internal, semisal dibandingkan dengan Saudi Arabia
atau Iran yang didominasi oleh satu mahzab/kelompok dalam Islam, di
Indonesia, Islam sendiri pun &#8212; pada tataran syariat &#8212; akan
menimbulkan pertanyaan penting: [syariat] Islam mana yang dipilih?
Dengan demikian, menampilkan semangat Islam dalam sila-sila
Pancasila perlu menggunakan bahasa publik, membumi, dan secara
esensi diterima semua pihak. Menarik juga disimak kaitan
berkelanjutan dari sila pertama yang meletakkan asas penting tauhid,
penghargaan Islam akan derajat manusia (&#8220;yang lebih mulia adalah
yang bertakwa&#8221;), kesatuan manusia sebagai umat yang besar
(<i>ummatan wahidan</i>), cara pengambilan keputusan lewat asas
demokrasi dengan hikmat musyawarah, dan hasilnya adalah untuk
keadilan dan kesejahteraan bangsa Indonesia sendiri.</p>

<p>Bagaimana ke depan? Hal yang menggelitik adalah: pada saat umat
Islam menempati pos-pos penentu kebijakan seperti sekarang, mengapa
&#8220;warna Islam&#8221; tidak terangkat? Sebagai perbandingan, di India
nilai-nilai Hindu terbawa, di Cina dengan Konfusianisme, di Amerika
Serikat dengan Protestan, mengapa untuk negara [berpenduduk] Islam
terbesar, Indonesia, nilai tsb. tidak muncul?</p>

<p>Yudi mengusulkan dua langkah ke depan:</p>

<ol>
<li>Umat Islam agar masuk lebih kongkrit, secara penuh, dalam urusan kebangsaan ini, jangan ragu-ragu.</li>
<li>Ganti ungkapan verbalisme dalam memahami Pancasila &#8212; hal merugikan yang berlangsung pada orde-orde terdahulu, sebaliknya, lakukan penerapan nilai-nilai Pancasila.</li>
</ol>

<p>Dengan kata lain, bagi umat Islam hal ini selaras dengan ajakan
&#8220;masuklah Islam secara <i>kaffah</i> (menyeluruh) dan terapkan
<i>amaliah</i> ajaran Islam.</p>

<p>Hadirin merespon kuliah umum dengan pandangan positif: mendapatkan
pencerahan tentang sikap memahami korelasi Islam dan Pancasila.
Dalam tanya-jawab setelah materi dibawakan, tercetus reaksi tentang
cara meletakkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa, tafsir
sila-sila Pancasila, dan hubungan antara agama-negara. Tentang
hubungan agama-negara, dikemukakan bahwa pada perkembangan terakhir
ini, kata <em>separation</em> (pemisahan) dianggap tidak tepat
menggambarkan hubungan tersebut, sebagai gantinya adalah
<em>differentiation</em> (pembedaan). Artinya, negara dan agama tidak
benar-benar terpisah lepas, melainkan keduanya berdiri saling
berhubungan dengan terdapat pembedaan fungsi keduanya.</p>

<p>Terhadap seorang hadirin yang bersikap menolak gagasan Yudi dan
tetap menekankan pada &#8220;negara berbasis syariah&#8221;, termasuk
mempersoalkan Piagam Jakarta, Yudi dengan baik menjelaskan balik
bahwa misalnya pun digunakan istilah &#8220;syariah&#8221; atau merupakan
representasi nilai-nilai Islam, perjalanan masih akan panjang untuk
mendapatkan &#8220;syariat yang sesuai dengan kondisi di Indonesia&#8221;. Dalam
arti: metodologi pengambilan hukum dan pelaksanaan syariat itu
sendiri yang harus dicari untuk Indonesia dan ini pekerjaan rumah
yang besar. Sedangkan untuk penghilangan kata-kata &#8220;syariat&#8221; pada
Piagam Jakarta, disampaikan analogi yang tepat saat Rasulullah
bersama para sahabat sedang menyusun Perjanjian Hudaibiyah
berhadapan dengan para pemuka kafir Quraisy.</p>

<p>Perlu dibaca buku <cite>Negara Paripurna</cite>, setidaknya
disajikan dokumen-dokumen perumusan dasar negara yang disampaikan
oleh para pendiri negara ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhlasulamal.name/2011/08/islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semarak di Awal, Harapan untuk Seterusnya</title>
		<link>http://ikhlasulamal.name/2011/08/semarak-di-awal/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=semarak-di-awal</link>
		<comments>http://ikhlasulamal.name/2011/08/semarak-di-awal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 23:29:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Remah-remah]]></category>
		<category><![CDATA[jemaah]]></category>
		<category><![CDATA[kaffah]]></category>
		<category><![CDATA[semarak]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhlasulamal.name/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Untuk sebagian orang yang sudah rutin mendirikan sholat berjemaah di masjid seyogyanya awal Ramadan membuatnya lebih berbahagia: masjid penuh diisi jemaah sholat Isya&#8217;, khotbah, dan sampai tarawih. Bacaan &#8220;amin&#8221; setelah Al Fathihah menggaung di dalam masjid. Hampir seperti sholat Jumat. &#8230; <a href="http://ikhlasulamal.name/2011/08/semarak-di-awal/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk sebagian orang yang sudah rutin mendirikan sholat berjemaah di
masjid seyogyanya awal Ramadan membuatnya lebih berbahagia: masjid
penuh diisi jemaah sholat Isya&#8217;, khotbah, dan sampai tarawih.
Bacaan &#8220;amin&#8221; setelah Al Fathihah menggaung di dalam masjid. Hampir
seperti sholat Jumat. Ini harus disyukuri, sampai hari-hari
pertengahan Ramadan pun, jumlah barisan sholat masih lebih banyak
dari rata-rata sehari-hari.</p>

<p>Kata sebagian orang dengan bercanda: di awal Ramadan masjid-masjid
semarak, setelah itu surut, kemudian semarak kembali sebelum
berpisah. Ada juga yang mengomentari: seharusnya kesemarakan seperti
ini bukan hanya di bulan Ramadan, melainkan menjadi kebiasaan
sehari-hari.</p>

<p><span id="more-19"></span></p>

<p>Betul, masuklah ke dalam Islam dengan <i>kaffah</i> (sempurna, lengkap), kerjakan dengan
paripurna. Walau demikian, inilah tuntutan yang sangat berat. Sama
seperti tuntutan terhadap kenyamanan di jalanan kita yang dapat
merembet pada soal disiplin pengendara, kondisi jalan yang layak,
pengadaan rambu-rambu yang memadai, petugas pengelola jalan dan
pengatur lalu-lintas yang cakap, dst. jika tidak direm berujung pada
kejahatan besar bernama korupsi yang mengakar pada sistem dan
budaya.</p>

<p>Begitu juga dengan perkara semarak tarawih di awal Ramadan, jika
dibahas terus-menerus hingga pertanyaan menohok seperti &#8220;Islam hasil
pencarian atau bawaan dari lahir&#8221;, &#8220;kulit atau esensi&#8221;, &#8220;syariat
atau makrifat&#8221;. Tentu bagus untuk introspeksi, namun jika
dilemparkan sebagai bola panas di depan umat, ada yang benar-benar
terbakar walau belum berjenggot, dan ini kontra-produktif. Toh si
pelempar juga kerepotan jika harus menakar kesanggupan umat menerima
bahan lontaran membara seperti itu.</p>

<p>Bawalah angin sejuk, ucapan yang baik, dan pemahaman akan kondisi
orang lain yang berbeda. Panjatkan syukur bahwa dalam setahun ada
sebulan masjid terisi di atas rata-rata dan semoga &#8220;perayaan&#8221; pendek
tsb. menjadi kenangan yang baik buat pelakunya. Mendoakan kebaikan
tanpa diketahui orang yang didoakan disebut-sebut mulia di buku saku
<cite>Doa</cite> tulisan Ustadz Miftah Farid.</p>

<p>Serendah-rendahnya angka statistik 0,1% saja berhasil mengajak
mereka mengikuti sholat berjemaah selanjutnya, bukan hanya di bulan
Ramadan, jumlah tersebut cukup. Lebih-lebih jika diingat bahwa
membuka satu hati pun kita sendiri, manusia, tak akan sanggup tanpa
izin-Nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhlasulamal.name/2011/08/semarak-di-awal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadan Penjual Rujak</title>
		<link>http://ikhlasulamal.name/2011/07/ramadan-penjual-rujak/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ramadan-penjual-rujak</link>
		<comments>http://ikhlasulamal.name/2011/07/ramadan-penjual-rujak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 04:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Remah-remah]]></category>
		<category><![CDATA[asongan]]></category>
		<category><![CDATA[KRD]]></category>
		<category><![CDATA[penjaja]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhlasulamal.name/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar dua pekan lalu, penjual rujak yang mangkal dengan gerobaknya di seberang pintu gerbang masjid di hari Jumat, memberi tahu rencananya akan pulang kampung ke Garut, Jawa Barat, dari awal Ramadan. Saya memaklumi kondisinya sebagai penjual makanan yang kendati tidak &#8230; <a href="http://ikhlasulamal.name/2011/07/ramadan-penjual-rujak/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar dua pekan lalu, penjual rujak yang mangkal dengan gerobaknya
di seberang pintu gerbang masjid di hari Jumat, memberi tahu
rencananya akan pulang kampung ke Garut, Jawa Barat, dari awal
Ramadan. Saya memaklumi kondisinya sebagai penjual makanan yang
kendati tidak ada larangan secara khusus untuk berjualan di siang
hari selama bulan puasa Ramadan, <q>Saya malu, <i>nggak</i> enak,
berjualan selama bulan puasa</q>, jelasnya kepada saya.</p>

<p>Malu adalah sebagian dari iman dan terhadap kesederhanaan kalimat
yang diucapkan, saya tidak perlu menerka-nerka isi hatinya.
Tempatkanlah segala sesuatu secara proporsional, baik yang tersurat,
pun yang tersirat.</p>

<p><span id="more-17"></span></p>

<p>Tentu ada kesulitan untuk orang-orang seperti penjual rujak tsb.
berhenti dari profesinya selama sebulan. Negara kita belum mempunyai
jaminan sosial yang memadai jika dibandingkan dengan &#8220;hak libur&#8221;
sekitar sepekan selama musim panas untuk memberi kesempatan
berekreasi di salah satu negara sosialis di Eropa. Begitu pula
kendati urusan libur berjualan selama bulan Ramadan sudah berulang
setiap tahun berbelas-belas kali untuk si tukang rujak &#8212; dan
ratusan penjaja makanan lain &#8212; penghasilan mereka secara umum
acapkali sulit diatur agar &#8220;sebelas bulan bekerja untuk dua belas
bulan dalam setahun&#8221;. Lebih-lebih jika diingat Ramadan dan Syawal
adalah bulan-bulan dengan konsumsi ekstra &#8212; setidaknya dia perlu
ongkos untuk pulang kampung, bertemu keluarga, membawa oleh-oleh,
dan persiapan perayaan. Sesuatu yang sampai tingkat tertentu lazim
dilakukan semua bangsa di seluruh dunia menyikapi perayaan.</p>

<p>Di <abbr title="Kereta Rel Diesel">KRD</abbr> Cicalengka-Padalarang
langganan saya pada tahun 1995-2000 dulu, para penjaja makanan di
sekitar stasiun kecil dan di dalam gerbong mengganti barang dagangan
selama bulan Ramadan. Kudapan dan minuman dalam kemasan diganti
dengan peralatan dapur dan menjahit, mainan anak-anak, dan buku atau
brosur doa. Pada perjalanan pukul 17.00 dst. penjaja makanan dan
minuman mulai berdatangan dan sebagian orang terutama yang berjejal
di dekat pintu mulai pasang telinga mendengar adzan sayup-sayup di
sepanjang Kiara Condong-Gedebage.</p>

<p>Begitu adzan maghrib terdengar, biasanya ada komando
bersahut-sahutan dan semua berbuka puasa dengan perbekalan yang
dibawa. Saya pernah sekali hanya berbuka dengan permen karena
beranggapan toh 10 menit lagi kami akan sampai di Rancaekek, jadi
minum dan lain-lain di rumah saja, ternyata seorang bapak di depan
saya dengan tersenyum menawarkan dan menyodorkan secangkir plastik
air putih yang entah dibawa atau baru saja dibeli dari penjaja.</p>

<p>Saya tidak ingin berlebih-lebihan mengait-ngaitkan bulan Ramadan
dengan aneka retorika untuk menjelaskan kemuliaan bulan ini,
ungkapan penjual rujak dan sodoran air minum di dalam gerbong kereta
sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan keseluruhan penghormatan
saya atas bulan ini.</p>

<p>Saya juga merasa jauh (dan memang sebaiknya menjauh) dari koleksi
undangan buka bersama, tarawih berbondong-bondong, hingga keharusan
berbelanja untuk lebaran. Termasuk yang sudah saya coba: menghindari
eksodus besar-besaran mudik lebaran. Kendati keinginan
bersilaturahim dengan keluarga besar di kampung halaman tetap
menggugah niat ikut pulang kampung, disertai mempertemukan anak-anak
dengan keluarga besar di sana, menggeser perjalanan setelah masuk
Syawal (bukan di akhir Ramadan) sudah mulai meringankan pikiran saya
untuk tidak berdesak-desak pada titik puncak mudik.</p>

<p>Memang hal seperti ini tidak untuk digeneralisasi, setiap orang
memiliki kecocokan dan keterbatasan berdasarkan lingkungannya, namun
jika hal tsb. diimbangi dengan niat berkontribusi terhadap
kekhidmatan bulan puasa, marilah kita jalankan, ciptakan, dan jangan
hanya berhenti menunggu atau mencari. Hal ini bukan mereduksi
Ramadan menjadi urusan masing-masing, melainkan secara kolektif kaum
muslimin harus menghormati semua orang dan berpuasa atau mengurangi
nafsu ingin dihormati.</p>

<p>Beberapa kali kita menjadi direpotkan oleh polemik beberapa profesi
yang terhalang bekerja selama bulan Ramadan. Persoalannya adalah
regulasi tentang hal tsb. sebenarnya belum ada dan dengan situasi
seperti sekarang terlalu berpayah-payah menjadikan hal tsb. sebagai
peraturan yang mengikat. Lebih elegan dan berakhlak baik jika
kesadaran tsb. muncul dari kita sendiri sebagai pelaku ibadah puasa
dalam bentuk komitmen. Alasan ekonomis sebagai dampak dari komitmen
tsb. akan lebih realistis menahan peningkatan konsumsi selama bulan
Ramadan.</p>

<p>Demikian halnya untuk para pedagang keliling dan asongan yang
berkurang omsetnya selama bulan Ramadan, akan lebih afdol jika
dibantu dengan dana konsumsi yang kita alihkan. Berikan penghormatan
kita terhadap bulan Ramadan salah satunya dengan membantu mereka
dalam bentuk uang, agar rasa malu mereka berjualan selama bulan
puasa diikuti oleh ketenangan karena secara finansial.</p>

<p>Tentu saja dunia ini tidak selalu indah dan teratur saling
melengkapi seperti paparan di atas, selalu ada bagian-bagian
tertentu yang mengganjal atau tidak semestinya. Ini termasuk bagian
dari puasa kita juga untuk menyikapi dan saya yakinkan: jika kita
telah mengerjakan bagian kita, sekecil apapun, itu tetap lebih besar
dan melengkapi perspektif kita terhadap permasalahan tsb. Apalagi
jika dikerjakan dalam kapasitas yang besar.</p>

<p>Inilah Ramadan: yang datang lebih awal adalah kemauan dan tindakan,
bukan wacana. Buktikan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhlasulamal.name/2011/07/ramadan-penjual-rujak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Menulis!</title>
		<link>http://ikhlasulamal.name/2011/06/ayo-menulis/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=ayo-menulis</link>
		<comments>http://ikhlasulamal.name/2011/06/ayo-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Jun 2011 22:35:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ikhlasul Amal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Remah-remah]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[Bloglicious 2011]]></category>
		<category><![CDATA[catatan]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikhlasulamal.name/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Inilah pentingnya latihan: mudah terlewat begitu saja, namun segera terasa jika diperlukan. Menindaklanjuti ajakan teman menulis artikel untuk majalah edisi terbatas yang mereka kelola, saya berusaha tidak tergesa-gesa dengan mengerjakan beberapa hari sebelum tenggat waktu. Ternyata gagasan tidak mengalir begitu &#8230; <a href="http://ikhlasulamal.name/2011/06/ayo-menulis/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inilah pentingnya latihan: mudah terlewat begitu saja, namun segera
terasa jika diperlukan.</p>

<p>Menindaklanjuti ajakan teman menulis artikel untuk majalah edisi
terbatas yang mereka kelola, saya berusaha tidak tergesa-gesa dengan
mengerjakan beberapa hari sebelum tenggat waktu. Ternyata gagasan
tidak mengalir begitu saja ke jari-jemari di atas laptop. Seperti
tumpul, serasa tersumbat. Celaka, bagaimana dengan rencana yang
dicanangkan agar lebih sering menulis blog lagi?</p>

<p>Selain sudah berjanji membuatkan tulisan tsb., jika saya menyerah
dengan membiarkan terkatung-katung keadaan akan lebih parah. Harus
dipaksa, sesuai keyakinan saya bahwa latihan yang cukup &#8212; apalagi
banyak &#8212; akan mendorong pada gagasan yang lebih luas dan lebih
kreatif. Karena ide tidak turun begitu saja dari langit, bukan hasil
berdiam diri semalaman, melainkan harus disambut dengan latihan
keras.</p>

<p>Jika saya sendiri tidak mempraktikkan, bagaimana hendak meyakinkan
hadirin di acara <a href="http://eevent.com/edittag/bloglicious-bandung">Bloglicious 2011 untuk Bandung</a> hari ini, saat saya
memaparkan <cite>Kiat Beraktivitas Blog</cite>?</p>

<p><em>Ayo menulis: lagi, terus, dan berkelanjutan</em>. Tentu ini catatan untuk
saya sendiri, agar melecut lebih keras dan melesat lebih kuat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikhlasulamal.name/2011/06/ayo-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

