Agama dan Spiritualisme

Saya menjumpai beberapa tulisan yang memberi penekanan perbedaan antara agama dan spiritualisme dalam konteks yang tidak tepat, biasanya dalam bentuk sbb.:

  1. Agama dianggap memisah-misahkan manusia dalam sekat-sekat keyakinan, sedangkan spiritualisme merangkul semua manusia dalam satu pemahaman menuju Tuhan.
  2. Agama disebut lebih membuat penganutnya sibuk dengan aspek ritual mengarah kepada Tuhan, sedangkan spiritualisme terlihat lebih manusiawi, salah satunya karena pemahaman menuju Tuhan lewat apresiasi terhadap sesama manusia.

Continue reading

Kuliah Umum “Islam, Indonesia, dan Pancasila”

Kemarin sore saya menyempatkan diri mendatangi Kuliah Umum yang diselenggarakan Masjid Salman ITB. Berjudul Islam, Indonesia, dan Pancasila, kuliah umum disampaikan oleh Yudi Latif, penulis buku Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila. Tema yang menarik bagi saya dengan harapan akan gambaran yang lebih teduh untuk mempertemukan agama dan kebangsaan.

Sedikit yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah tulisan yang dipilih sebagai pengantar di undangan Facebook untuk Kuliah Umum ini,

INILAH ironi kolektif bangsa yang gagal. Ibarat sudah memegang mutiara, tapi malah dikubur dan berusaha mencari mutiara lain di tumpukan puing-puing kehancuran rumah milik orang lain.

Mungkin itulah salah satu analogi tentang eksistensi Pancasila sebagai dasar negara Republik ini yang semakin pudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Korupsi yang diperagakan penyelenggara negara dan kroni-kroninya, tindak kekerasan yang terus masif atas nama pembenaran privat, dan praktik ekonomi yang timpang, serta lemahnya akses-akses bagi warga negara untuk memperoleh hak-hak mendasar adalah secuil bukti kebobrokan negara ini.

— Sumber: Negara Paripurna itu Semakin Menjauh.

Frase “ironi kolektif” dan “gagal” seperti bersahutan dengan “keterpurukan” yang menimbulkan suasana tidak nyaman. Semoga diskusi tsb. tidak menjadi acara ratapan berjemaah.

Continue reading